Masuk

Ingat Saya

Haters Netizen = Terrorists ?

Di artikel ini saya mau mencoba sedikit lebih serius…karena di artikel sebelumnya saya agak bercanda mengenai ISIS 😀

Pertama kali kita coba sama-sama telaah terlebih dahulu arti dari judul untuk artikel ini :

  • Haters = Pembenci
  • Netizen = Pengguna internet, terutama yang kebiasaan atau avid.
    Karena server log di situs tujuan hanya menampilkan alamat IP dari server proxy, dan bukan pengguna akhir, beberapa hacker dan netizens privasi sadar katalog proxy terbuka dan menggunakannya untuk anonim berselancar mereka
  • Terrorists = Pelaku teror      (Source = Google Translate)

Perkenankan saya menyimpulkan : Pengguna jaringan internet yang  memanfaatkan suasana keruh dengan cara menyebarkan kebencian bagi suatu hal yang sedang terjadi/trending topic pada saat itu.Penulis mengunggah artikel ini juga menggunakan jaringan koneksi internet,berarti sudah menyatakan diri sebagai netizen juga.Lalu kenapa para haters tersebut di-sama dengan-kan pelaku teror/terrorists ?

Beberapa waktu lalu dunia maya,khususnya media sosial sempat dibanjiri dengan berita-berita hoax yang hampir tiap hari muncul di beranda Facebook,akibat dari sikap simpatik dan kepedulian netizen dengan membagikan/share ulang postingan berita tersebut.Penulis dalam hal ini tidak perlu lagi ya mengambil contoh berupa link/tautan.Penulis yakin kalau pembaca juga sudah paham akan hal ini 🙂
Lalu kenapa harus ada haters yang rajin buat hoax ?

Sudah ada 2 tanda tanya di atas yang harus dijawab ; pembenci = pelaku teror dengan cara menyebarkan isue negatif,pemutarbalikan fakta berupa postingan berita palsu/hoax bertujuan mencari keuntungan sepihak,suatu golongan maupun pribadi dengan tujuan yang absurd,irasional,tidak jelas,sekedar iseng.Bisa juga digunakan sebagai pengalihan topik yang biasanya dilakukan oleh golongan atau kelompok besar dalam menyikapi suatu kejadian besar pula.Spammer memanfaatkan hal ini sebagai tujuan keuntungan ekonomi secara spesifik,sambil menyelam minum air.
st

Ahh cuma teror skala kecil kok..toh tidak ada korban jiwa,mereka kerja nya juga tidak pakai bom paku,bom C4,dinamit,dll..mereka kerja nya khan cuma pake kuota internet 🙂
Mudah-mudahan penulis hanya khilaf saja berlaku suudzon kepada mereka para haters netizen,yang banyak diantaranya juga teman dari penulis sendiri 😀

TEROR MORAL,SOSIAL & BUDAYA

ScreenShot from Facebook

ScreenShot from Facebook


Sampai saat ini,belum ada topik/sub topik soal AGAMA.
Semoga kita satu pendapat bahwa ; ajaran kebaikan moral,sosial dan budaya,pasti otomatis ada di dalam wadah agama.Ini artikel ke-3 di sub domain PMD-BNPT 2016,penulis bertahan tidak akan menyinggung satu agama tertentu.
Foto ilustrasi di atas pada tulisan berhuruf tebal,kira-kira mencoba mengarahkan kita untuk ;
”Anda mengatur siapa saja yang bisa memberikan komentar pada postingan Anda yang bersifat publik/terbuka untuk umum”
–diterbitkan oleh Admin Facebook Tim Privasi.
Penulis merasa cukup mengambil satu contoh media sosial saja yaitu Facebook sebagai nara sumber valid dalam hal Teror Moral,Sosial & Budaya dengan alasan berikut ini :

ScrenShot Profile Founder & CEO FB

ScrenShot Profile Founder & CEO FB

Si om Mark Zuckerberg punya slogan ‘making the world more open and connected’ dengan followers sebanyak Enam puluh sembilan juta delapan ratus dua puluh delapan ribu tujuh ratus empat puluh sembilan orang.Kira-kira berapa persen dari total jumlah manusia yang ada di bumi ini ya ?
Mohon maaf penulis bukan petugas sensus,jadi tidak bisa beri jawaban 😀
Di artikel selanjutnya penulis akan mengupas,mengulas lebih jauh lagi hasil dari pencermatan selama ini yang hampir dalam kurun waktu kurang lebih 7 tahun,menyimak rata-rata 12-18 jam/hari dunia maya dari berbagai aplikasi medsos.
Penulis khan netizen sejati,wajar toh… ? 😀

Apapun aplikasi media sosial yang Anda gunakan,bergantung pada diri Anda masing-masing akan dipergunakan sebagai tujuan apa yang bagaimana.

Salam Damai bagi kita semua 🙂

Yogyakarta,26 Juni 2016
**Yanuar**

yanuari
Dengan
Pekerja di bidang pariwisata Yogyakarta,pengamat budaya,pelayan kemanusiaan di bidang kebencanaan alam,pegiat dunia maya aktif.